Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perbandingan Era Jokowi dengan Sebelumnya, dalam Hak Menyampaikan Aspirasi

Perbandingan Era Jokowi dengan Sebelumnya, dalam Hak Menyampaikan Aspirasi

Perbandingan era Jokowi dengan sebelumnya

Aspirasiproletar.com-Banyak kalangan yang memberikan perbandingan era jokowi dengan sebelumnya, terutama dalam kebebasan berpendapat. Kalangan tersebut mencakup juga politikus maupun tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh dalam menyuarakan aspirasinya.

Padahal kebebasan dalam menyampaikan sebuah pendapat merupakan hak setiap individu, yang dilindungi oleh Undang-Undang 1945 pada pasal 28. Sehingga haruslah dihormati hak tersebut, karena merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada hamba-Nya.

Berbagai lapisan masyarakat merasa ketakutan dalam menyuarakan sebuah aspirasi, walaupun aspirasi tersebut bertujuan untuk memajukan Indonesia kearah yang lebih baik. Alasan ketakutan tersebut mempunyai beberapa faktor, misalnya saja ancaman pemenjaraan dan juga serangan yang ditujukan pada masalah pribadi.

Baca juga: Pengertian aspirasi menurut para ahli

Pada era Presiden Jokowi saat ini, banyak tokoh-tokoh politik yang membandingkan dengan era sebelumnya, terutama dalam kebebasan berpendapat.

Era Jokowi dianggap otoriter

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, otoriter ialah suatu sistem yang berkuasa sendiri atau sewenang-wenang. Anggapan akan adanya sistem yang otoriter pada era jokowi muncul pada pikiran masyarakat, terutama ketika banyak media yang memberitakan isu pemenjaraan seseorang karena kasus Undang-Undang IT.

Perbandingan Era Jokowi dengan Sebelumnya, dalam Hak Menyampaikan Aspirasi

Komika asal Indonesia timur yaitu Abdur yang terkenal akan orasi-orasi nya yang tajam, kini mengangaku bahwa dulu pada tahun 2014 silam, ia berani menyuarakan hal tersebut karena pada pemerintahan SBY identik dengan gaya militer tapi slow. Berbeda dengan pemegang kekuasaan saat ini yang mengaku slow tapi nyatanya otoriter. 

Keresahan Mantan Kemenko Perekonomian era Gusdur pada buzzer

Perbandingan Era Jokowi dengan Sebelumnya, dalam Hak Menyampaikan Aspirasi

Mantan Menteri Koordinator bidang Ekonomi dan Industri (Kemenko) di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur) yaitu Kwik Kian Gie, angkat bicara terkait kebebasan berpendapat saat ini. Ia menyatakan bahwa saat ini ketika seorang tokoh berbeda pendapat atau arah, akan langsung dihajar habis-habisan oleh buzzer.

Kwik Kian Gie ketika berdebat dengan staff ahli Menteri Keuangan Sri Mulyani di Twitter, mengenai perbincangan dengan tema utang negara. Namun niat baik tersebut yang bertujuan untuk memberikan sebuah alternatif, malah mendapatkan gangguan dari buzzer yang mengumbar permasalahan personalnya.

Kwik Kian Gie juga memperbandingkan dengan keadaan kebebasan berasumsi pada zaman kepimpinan Presiden Soeharto. Menurut dia, waktu itu ia dikasih kolom dalam suatu harian nasional untuk ajukan kritik-kritik yang tajam tanpa permasalahan yang tampil sesudahnya.

"Saya tidak pernah setakut sekarang ini menyampaikan opini yang berlainan, padahal dengan tujuan baik memberi sebuah jalan alternative. Langsung di-buzzer habis-habisan, mengenai permasalahan personal”. Ujar Kwik Kian Gie melalui akun Twitternya.

Lebih lanjut ia memberikan perbandingan era Jokowi dengan sebelumnya, yaitu pada masa orba. Di mana ia diberikan kebebasan dalam mengkritik dengan tajam pada pemerintah orba. Namun tidak ada masalah yang dihadapi setelah menyatakan pendapat tersebut, berbeda dengan era sekarang ini.

Bahkan ia mengaku tidak pernah setakut ini dalam menyampaikan sebuah opini yang membangun berdasarkan data. Selaras dengan argumen Kwik Kian Gie, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Pudji Astuti tampak setuju dengan argumentasinya.



 


Post a Comment for "Perbandingan Era Jokowi dengan Sebelumnya, dalam Hak Menyampaikan Aspirasi"