Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ketakutan Menyampaikan Pendapat, Terhambatnya Demokrasi

Ketakutan Menyampaikan Pendapat, Terhambatnya Demokrasi

Ketakutan menyampaikan pendapat

Aspirasiproletar.com-Ketakutan menyampaikan pendapat menandakan adanya sebuah sistem otoriter pada suatu pemerintahan. Ketakutan dalam menyatakan pendapat tentu akan merusak demokrasi yang dianut suatu negara, begitu juga di Indonesia.

Demokrasi dewasa ini sering kali menuai hambatan dan permasalahan kompleks, terutama dalam menyampaikan sebuah aspirasi. Individu dalam menyampaikan pendapatnya, seringkali menuai sebuah ancaman, contohnya saja mengenai penyerangan permasalahan personal atau pribadi.

Menyampaikan sebuah pendapat merupakan sebuah hak individu, terutama mengenai hal yang menyangkut kebijakan yang mempengaruhi pada hidupnya. Menyampaikan pendapat merupakan sebuah hak yang dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945 pada pasal 28.

Maka dari itu, negara hukum seperti Indonesia haruslah melindungi hak-hak rakyatnya sebagai tonggak awal terbentuknya sistem demokrasi yang utuh.

Konsep negara hukum lahir dari sebuah keinginan untuk melindungi hak-hak rakyat, juga bertujuan untuk membatasi kewenangan penguasa pemerintah negara. Yang mana seringkali penguasa menggunakan kewenangan untuk menindas rakyatnya sendiri.

Faktor penyebab ketakutan dalam menyampaikan pendapat

Ada beberapa faktor yang dapat disimpulkan atas alasan masyarakat ketakutan dalam menyampaikan sebuah pendapat atau aspirasi, misalnya saja:

1. Ketakutan akan sebuah ancaman penjara

Masyarakat seringkali dipertontonkan dengan pemberitaan mengenai pemenjaraan seseorang yang terjerat dalam kasus UU IT, terutama mengenai sebuah kritikan yang ditujukan pada pemerintah. Sehingga masyarakat akan cenderung bungkam mengenai permasalahan yang dihadapi negeri ini, dari pada mengeluarkan aspirasinya.

Dengan adanya perilaku ketidakpedulian masyarakat terhadap proses berjalannya pemerintahan, maka akan menghancurkan harapan akan adanya sebuah budaya partisipasi aktif. Tidak adanya budaya partisipasi aktif, dapat berdampak pada sistem demokrasi Indonesia yang berjalan ditempat.

2. Penyerangan buzzer pada masalah pribadi

Singkatnya buzzer ialah seseorang yang tidak jelas identitasnya, bergerak baik perorangan maupun kelompok. Buzzer memiliki tujuan ialah menyuarakan kepada suatu kepentingan, baik itu bersifat sukarela maupun terdapat imbal balik.

Banyak kalangan yang resah akan kehadiran buzzer tersebut, karena membuat sebuah rasa ketidaknyaman berupa gangguan privasi seseorang. Buzzer yang pro/kontra pada pemerintah akan menyerang secara tidak etis pada mereka yang berlawanan arah.

Misalnya saja pada kasus tokoh politikus, Kwik Kian Gie. Kwik Kian Gie merasakan ketakutan akan menyampaikan pendapat, baik itu berdasarkan data ataupun opini. Itu karena buzzer menyerang secara personal, bukan kepada pendapat yang disampaikannya.

Ketakutan menyampaikan pendapat yang terjadi di masyarakat akan menghambat kemajuan demokrasi di Indonesia. Sehingga dibutuhkan upaya yang komprehensif setiap kalangan, dengan tujuan majunya demokrasi Indonesia ke arah yang lebih harmoni.


Post a Comment for "Ketakutan Menyampaikan Pendapat, Terhambatnya Demokrasi"