Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dituduh Mencuri Lalu Diperas Oknum Polisi: Menuntut Keadilan

Dituduh Mencuri Lalu Diperas Oknum Polisi: Menuntut Keadilan

Dituduh Mencuri Lalu Diperas Oknum Polisi

Aspirasiproletar.com-Dituduh mencuri lalu diperas oknum polisi, kasus tersebut menimpa pasangan suami istri di Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara. Perempuan yang bernama Siti Nuraisyah dan suaminya Muhammad Fajar, dituduh telah melakukan pencurian telepon genggam milik anggota kepolisian. Bahkan bukan saja telah dituduh mencuri, melainkan juga dilakukan penahanan.

Argumentasi kepolisian

Penahan tersebut dilakukan dengan alasan tersangka telah dengan sengaja, membawa telepon milik oknum polisi ke rumah korban. Bukannya alih-alih memberikan pada security, telepon genggam tersebut malah dibawa menginap selama 3 hari.

Argumentasi tersangka

Korban merasa terkejut ketika ditahan di Polsek Tanjung Morawa, dengan alasan pencurian telepon genggam milik oknum polisi. Karena pada niat awalnya pasangan suami istri (pasutri) tersebut hanyalah ingin mengembalikan telepon genggam tersebut.

Pasutri tersebut menunggu dari awal menemukan, sampai tiga hari kemudian. Namun tidak ada telepon yang kunjung datang pada telepon genggam tersebut.

Pasutri itupun menambahkan bahwa jika memiliki niatan mencuri telepon genggam itu, maka kartu sim itu akan dicabut atau dibuang. Namun karena tidak ada niatan mencuri, jangankan membuang sim mematikan telepon genggam saja tidak. 

Kronologi permasalahan

Berawal dari kunjungan Siti Nuraisyah dan Muhammad Fajar ke pusat perbelanjaan pada tanggal 26 Desember 2020, namun ketika berkujung pada rak bagian celana, mereka menemukan sebuah telepon genggam yang tergeletak. Kemudian menunggu sang pemilik menghubungi, hingga sampai larut malam pasutri tersebut tetap menunggu di pusat perbelanjaan.

Namun telepon pemilik tidak kunjung datang, sehingga memutuskan untuk membawa telepon genggam tersebut ke rumahnya, dengan besar harapan si pemilik menelepon.

"Namun, hingga tanggal 30 Desember 2020, melalui teman dari Fajar yaitu Ghifari, ada seorang perempuan yang menghubunginya untuk mencari alamat tersangka (Fajar dan Siti). Perempuan berkata bahwa Siti dan Fajar terkena kasus pencurian telepon genggam.

Melalui informasi nomor telepon dari perempuan tersebut, pasutri itu mencoba berkali-kali menghubungi nomor pemilik telepon genggam, tetapi tidak mendapat respon. Pada malam hari barulah sang pemilik mengangkat telepon, namun menjawab dengan nada ketus.

Pada tanggal 5 Januari 2021, mereka (pasutri) berjumpa di Polsek Tanjung Morawa, sesuai dengan kesepakatan pemilik telepon genggam. Bukannya berterima kasih, pasutri langsung ditahan oleh pihak polsek. 

Singkatnya pemilik telepon genggam tersebut ialah seorang polisi, yang bernama Musliadi Tanjung.

Kronologi lebih lengkap dapat Anda kunjungi pada link situs yang telah disediakan di bawah berikut.

https://news.detik.com/berita/d-5355008/pasutri-mengadu-ke-polda-sumut-karena-merasa-dituduh-curi-hp

https://aceh.tribunnews.com/2021/01/29/kembalikan-handphone-temuan-wanita-ini-jadi-tersangka-dan-diperas-oknum-polisi-rp-35-juta

Kasus pemerasan yang dilakukan oknum polisi

Siti Nuraisyah mengatakan bahwa telah ada sebuah pemerasan yang dilakukan oleh oknum polisi pada mereka. Ia mengatakan oknum anggota Polsek Tanjung Morawa meminta uang senilai 35 juta rupiah pada mereka (pasutri), agar kasus tersebut dapat terselesaikan secara kekeluargaan.

20 juta untuk Juru Periksa (juper) yang menengahi kasus tersebut dan 15 juta lagi untuk mencabut kasus tersebut. Namun Siti terkejut, mengingat harga telepon genggam tersebut tidaklah mencapai harga yang diminta oknum polisi.

Dikutip dari Detik.com Pengacara mengatakan, mengacu pada Perma 02 Tahun 2012 mengenai penyesuaian batasan tindak pidana ringan dan jumlah denda. bahwa tindak pidana ringan dengan nilai kerugian maksimal 2,5 juta rupiah. Kemudian harga HP kurang dari 2 juta rupiah, ditemukan dan dikembalikan bukan mencuri.

Pengacara tersebut menanyakan dimana letak hati nurani oknum polisi tersebut, dan dimana visi misi yang selama ini sering kali dibeberkan pada masyarakat, bahwa polisi adalah pelindung dan pengayom masyarakat. Serta bagaimana jika kasus yang menimpa klien-nya, menimpa juga keluarga oknum polisi tersebut.

Argumentasi kepolisian mengenai kasus pemerasan

Kapolsek Tanjung Morawa yaitu AKP Sawangin Manurung membantah tuduhan kalau pihaknya ada melakukan pemerasan terhadap tersangka. Kapolsek tersebut tidak hanya membantah perihal pemerasan, tetapi juga mengenai argumentasi tersangka.

"Silahkan saja hendak mengatakan apapun, itu hak beliau. Yang penting perkaranya tetap maju dan hanya menunggu P-21 saja. Ujar Sawangin Manurung.

Bisa saja dia ngomong seratus juta atau bahkan lima puluh juta atau juga satu milyar, itukan hak beliau. Yang terpenting kami tidak ada melakukannya," tambah Sawangin Manurung. 

Sawangin menyebut apa yang telah dilakukan oleh pasutri tersebut sudah memenuhi unsur pasal pencurian. Karena bukannya melaporkan kepada security, malah kemudian dibawa ke rumah selama 3 hari lamanya. Argumentasi tersangka mengenai niatan ingin mengembalikan, hanyalah merupakan sebuah modus.

Dituduh mencuri lalu diperas oknum polisi, Kapolsek Tanjung Morawa membantah serta membebaskan perihal hal tersebut, karena proses hukum tetap berjalan.

Sumber berita

https://news.detik.com/berita/d-5355008/pasutri-mengadu-ke-polda-sumut-karena-merasa-dituduh-curi-hp

https://aceh.tribunnews.com/2021/01/29/kembalikan-handphone-temuan-wanita-ini-jadi-tersangka-dan-diperas-oknum-polisi-rp-35-juta


Post a Comment for "Dituduh Mencuri Lalu Diperas Oknum Polisi: Menuntut Keadilan"